Flora. Gadis itu masih termenung diantara batuan cadas hitam yang menemani setiap jeritan lamunannya. Ia terduduk dengan wajah yang masih menatap kelamnya cahaya langit. Aliran sungai terasa begitu deras di setiap detakan jantungnya. Ditatapnya langit kelam yang tak memberi kasih tanpa cahaya lekat-lekat seakan meminta pada Tuhan agar diberi sedikit saja kesempatan untuk bisa mengecap nikmatnya dunia tanpa siksaan batin yang mahadahsyat dan mencekam. Namun tampaknya itu semua hanya bunga khayalan saja. Wajahnya tetap gelap tanpa ada cahaya yang menerangi. Angin hanya lalu-lalang dengan wajah iba. Flora hanya bisa menjerit di batinnya. Wajar bila Flora tak dapat menyebarkan senyum anggunnya. Telah belasan tahun batinnya tersiksa dan perasaan tenang pun tak dapat ia raih, dan Tuhan pun tak kunjung memberinya pertolongan. Begitu berat ia menggenggam rantai kebencian pada hidup bersamaku yang dijalaninya, walau pada wajah mulusnya begitu ringan rasanya ia menebarkan bunga cinta kasih pada orang-orang. Itu semua karena cinta kami berdua. Cinta Flora dan Fajar. Sejak kami mengucapkan sumpah sehidup semati saat pernikahan kami, tak sedikitpun cinta kasih kami direstui oleh orang Tua. Tak sedikitpun senyum keluarga mengharumkan pernikahan kami. Dan bila kami tetap melanjutkan mahligai pernikahan kami, cinta kami akan selalu dipisahkan dengan cara apapun.Keesokan harinya tercium kabar bahwa orang tua Flora akan menyuruh pare preman jalanan untuk membunuhku agar kami tak bisa lagi bersama. Mendengar kabar itu Flora menghampiriku dan berkata dengan tangis yang terisak-isak “Fajar, aku sudah lelah dengan semua ancaman orang tua kita yang terus memisahkan kita. Aku sudah lelah dengan ancaman-ancaman yang terus menyiksa batinku. Aku tak ingin kau dibunuh. Aku tak ingin kau mati sendiri tanpa kehadiranku. Aku tak ingin berpisah selamanya denganmu. Aku ingin kau terus ada disampingku. Aku merasa dunia bukan tempat cinta yang bahagia, tetapi di surga sana. Maka aku akan membunuh diriku sendiri sebelum kau dibunuh, agar disurga nanti aku dapat menyambut dirimu dan berbahagia selamanya disana”Aku hanya dapat bergumam pasrah dan kemudian air mataku jatuh tak tertahan lagi “kau boleh pergi duluan ke surga sebelum diriku, tetapi kau harus yakin, cinta kita tetap abadi” Dengan berpasrah segalanya pada Tuha, Flora pun menganmbil sebuah pisau tajam yang telah diasah olehku, pertanda bahwa Flora sudah siap menjalani niatnya untuk mengakhiri hidup di dunia menuju kehidupan abadi. Sebelum ia bunuh diri, ia menggenggam tanganku erat “cinta kita akan terus abadi”Setelah mengucapkan sumpah setianya pada cinta kami berdua, Flora pun menebaskan pisau itu ke lehernya dan bercucurlah darah. Aku pun menjerit histeris melihat Flora telah mati disampingnya. Namun, aku percaya aku akan menyusulnya nanti di alam sana.Saat 3 pareman jalanan datang menyiapkan pedang maut mereka, aku sudah siap dengan sebilah badikku. Saat pertama aku berhasil melumpuhkan 2 orang pemuda, namun kekuatan pemuda terahir telah melumpuhkan nyawaku. Sebuah pedang tajam menembus jantungku semakin dalam. Aku hanya bisa menahan kesakitan. Namun tiba-tiba disela jerit kesakitanku, aku melihat pintu gerbang cahaya kematian datang didepanku. Flora ada disana. Dia tersenyum menyambutku dan ingin menjemputku ke surga. Mataku pun terpejam dan bayanganku pun menggenggam erat tangan Flora, siap pergi bersama ke dalam surga cinta yang sejati. Disana aku berbahagia bersama Flora selamanya, menjalani kehidupan abadi yang penuh dengan bunga cinta dan kasih... (Diilhami dari kisah cinta Datu Museng dan istrinya)
0 komentar:
Posting Komentar